Menghargai Perbedaan Agama
"Menghargai Perbedaan Agama"
Selamat pagi,
Yang saya hormati, guru Bahasa Indonesia, dan
Yang saya banggakan teman-teman sekalian.
Pertama-tama, marilah kita panjatkan puja dan
puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya lah,
kita dapat berkumpul di sini pada pagi hari ini.
Saya juga ingin mengucapkan terima kasih
kepada guru Bahasa Indonesia dan teman-teman sekelas yang telah memberikan saya
kesempatan untuk menyampaikan ceramah saya ini.
Bagaimana
kabarnya hari ini?, saya harap baik-baik saja.
Saya akan menyampaikan ceramah dengan judul “Menghargai Perbedaan
Agama”
Sebelum itu,
Saya berharap apa yang saya sampaikan hari ini dapat bermanfaat dan saya sangat senang jika ceramah saya akan berguna dalam kehidupan sehari-hari
Menghargai adalah menghormati segala sesuatu hasil
atau milik orang lain. Menghargai orang lain sangat penting dalam
kehidupan ini. Dengan menghargai orang lain maka orang lain juga akan
menghargai kita. Sikap apa yang kita peroleh dari orang lain adalah cerminan
dari sikap kita sehari-hari kepada orang lain. Jika kita bersikap baik dan
menghargai orang lain maka orang lain juga akan berbuat demikian.
Menghargai juga sangat penting diterapkan di
kehidupan sehari-hari terlebih kita ini adalah Bangsa Indonesia. Bangsa yang
terdiri dari beragam-ragam ras, suku, bahasa, dan agama. Seperti semboyan
Negara kita Bhineka Tunggal Ika. Berbeda-beda tetapi tetap satu. Persatuan ini,
hanya bisa terjadi jika kita saling menghormati satu sama lain. Perbedaan di
Negara Indonesia kita yang tercinta ini, tak dapat dihilangkan atau dihapuskan
karena masing-masing orang memiliki pendirian yang berbeda sehingga
satu-satunya jalan adalah dengan saling menghormati. Bahkan, ada beberapa orang
yang berpendapat bahwa berbeda itu adalah suatu kewajiban. Karena, dengan
adanya suatu perbedaan, kita dapat belajar untuk saling mengenal. Dengan adanya
perbedaan, kita bisa dikenang dengan ciri khas masing-masing. Dengan adanya
perbedaan, kita memiliki hidup yang jauh lebih berwarna dan lebih seru.
Kita tak perlu membeda-bedakan orang lain.
Seperti mengatakan dia itu berkulit hitam, dia itu kulit putih. Lalu, kenapa
dengan kulit hitam dan putih? Lagipula, perbedaan itu bukanlah suatu penyakit
menular yang harus dihindari. Jadi mengapa kita tak ingin berdekatan dengan
orang lain yang berbeda ras, agama, suku, ataupun budayanya? Mengapa masih
mempermasalahkan agama jika pada dasarnya semua agama adalah pendirian yang
terbentuk dari rasa terima kasih manusia kepada penciptanya?Semua manusia sama
saja di mata Tuhan, maka biasakanlah menerapkan kehidupan toleransi antar
sesama. Saya akan memberikan contoh kehidupan bertoleransi antar agama.
Sebelum saya memberikan contoh kehidupan bertoleransi antar agama, dari
sini apa ada yang ditanyakan ?
Tiga rumah
ibadah berdiri megah di Desa Pusong, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe.
Gedung itu dibangun puluhan tahun lalu dan saling berdampingan, yaitu satu
wihara dan dua gereja.
Satu gereja
milik Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dan satu lagi Gereja Methodis
Indonesia (GMI). Tak jauh dari rumah ibadah itu terdapat masjid di Pusong.
akhir pekan, jemaat berdatangan kesana.
Letak ketiga
rumah ibadah itu berada di sudut kota. Saban pengamanan khusus, mereka bisa
khusuk beribadah tanpa khawatir.
Affandi
Chandra, salah satu pengurus wihara Lhokseumawe, mengatakan, toleransi beragama
di daerahnya sangat tinggi.
“Bahkan
kalau kita perayaan waisak atau tahun baru, itu masyarakat muslim turut
bantu. Mareka membantu kita agar nyaman, sepeda motor kita diamankan, ini sudah
puluhan tahun,” katanya, Selasa (12/9/2017).
Perlakuan
yang sama ketika umat kristen melaksanakan ibadah pada Minggu di dua gereja
itu. Mereka tak pernah mengalami gangguan apapun.
Data dari
Badan Pusat Statistik (BPS) Lhokseumawe menyebutka total penduduk kota itu
sebanyak 205.462 jiwa dengan rincian pemeluk agama Islam 203.783 jiwa, Katolik
185 jiwa, Buddha 718 jiwa dan Hindu 10 jiwa.
Ketika
berbicara tentang toleransi di Aceh, Lhokseumawe bisa dijadikan salah satu
rujukan. Disana, umat beragama menyatu dalam pelukan muslim dan payung
kebhinekaan Indonesia
Teman-teman,
Agama apapun di dunia ini, pasti memiliki
Tuhan yang menciptakan mereka. Tuhan yang menjadi alasan mereka ada di dunia
ini. Hanya saja, masing-masing agama memiliki nama tersendiri untuk Tuhan mereka.
Contohnya Islam memiliki Allah.
Agama apapun, pasti memiliki suatu benda yang
dianggap suci atau sakral contohnya kitab yang harus dihormati. Contohnya saja
orang Islam pasti tidak mau kitab Al-Qur’an di bakar. Begitu juga orang Kristen
yang menuntut agar orang beragama lain tidak membakar Al-Kitab. Mengapa kita
tak belajar untuk menghormati? Menghormati masing-masing benda dan kitab yang
oleh masing-masing pihak dianggap suci.
Agama apapun, melarang umatnya untuk
membunuh. Jadi, jika ada seseorang yang meledakkan suatu tempat dan dengan
bangga menyatakan bahwa ia melakukan hal itu untuk agamanya, orang itu
sebenarnya tidak memiliki agama. Bagaimana ia bisa mengatakan bahwa Tuhan
memerintahkannya untuk membunuh?
Masing-masing agama, memiliki cara tersendiri
untuk berdoa. Jika di dalam agama Islam, biasanya salat 5 kali sehari menghadap
ke arah kiblat dan pada hari Jumat khusus untuk yang laki-laki wajib mengikuti
salat Jumat. Sedangkan, biasanya umat Kristen beribadah hari Sabtu atau minggu
bersama di Gereja atau Kapel. Mengapa kita harus mengolok-olok cara mereka
berdoa atau waktu mereka berdoa. Beberapa pihak tak bertanggung jawab
mengatakan bahwa orang Islam beribadah salat Jumat untuk menyembah Dewi Freja.
Karena hari Jum’at dalam bahasa Inggris adalah Friday yang
awalnya berasal dari kata Freja. Sedangkan pihak lainnya juga
mengatakan bahwa umat Kristen beribadah kepada dewa matahari karena beribadah
di hari minggu yang dalam bahasa Inggris adalah Sunday. Berasal
dari kata Sun dan day.Sun berarti matahari.
Mengapa harus mempermasalahkan hal itu? Berdoa adalah suatu kegiatan
bercakap-cakap dengan Tuhan entah itu berterima kasih ataupun meminta sesuatu. Perlu diingat sekali
lagi bahwa Tuhan itu, lebih hebat dari pada swalayan 24 jam yang di hari besar atau
jika ada bencana alam tutup. Tuhan itu, selalu ada, setiap saat, dimanapun,
kapanpun.
Bangsa Indonesia juga dikenal sebagai bangsa
yang menerapkan ajaran tenggang rasa. Rasa toleransi ini, sangat dibutuhkan
jika kita sedang menghadapi perbedaan. Sekali lagi perlu diingat bahwa
perbedaan itu bukanlah suatu penyakit menular yang harus dihindari. Jadi,
jangan sampai kita mengacuhkan atau mengucilkan orang yang berbeda dari kita.
Saya rasa sekian ceramah saya. Saya berharap
ceramah saya akan berguna dalam kehidupan kita. Atas waktu dan perhatian yang
telah anda berikan, saya ucapkan terima kasih.
Selamat pagi
1. Tema : Toleransi Beragama
Data :
“Agama apapun di dunia ini, pasti memiliki
Tuhan yang menciptakan mereka. Tuhan yang menjadi alasan mereka ada di dunia
ini”.
2. Gagasan Pokok :
a. Mapel : Agama (PAI)
b. Materi : Kehidupan Toleransi dalam
Beragama
c. Isi
:
Menghargai Perbedaan Beragama
Data :
“Saya akan
menyampaikan ceramah dengan judul “Menghargai Perbedaan Agama”. Menghargai adalah
menghormati segala sesuatu hasil atau milik orang lain. Menghargai orang lain
sangat penting dalam kehidupan ini. Dengan menghargai orang lain maka orang
lain juga akan menghargai kita. Sikap apa yang kita peroleh dari orang lain
adalah cerminan dari sikap kita sehari-hari kepada orang lain. Jika kita
bersikap baik dan menghargai orang lain maka orang lain juga akan berbuat
demikian. ”
3. Permasalahan Aktual
a. Judul Berita : Melihat Toleransi Beragama di Kota Syariat Islam...
b. Sumber : http://regional.kompas.com/read/2017/09/12/18482451/melihat-toleransi-beragama-di-kota-syariat-islam.com
c. Tanggal Publikasi : 12-09-2017
v Data Berita Asli :
LHOKSEUMAWE, KOMPAS.com – Tiga rumah ibadah berdiri megah di Desa Pusong, Kecamatan Banda Sakti,
Kota Lhokseumawe. Gedung itu dibangun puluhan tahun lalu dan saling
berdampingan, yaitu satu wihara dan dua gereja.
Satu gereja
milik Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dan satu lagi Gereja Methodis
Indonesia (GMI). Tak jauh dari rumah ibadah itu terdapat masjid di Pusong.
Letak ketiga
rumah ibadah itu berada di sudut kota. Saban akhir pekan, jemaat berdatangan
kesana. Tak ada pengamanan khusus, mereka bisa khusuk beribadah tanpa khawatir.
Affandi
Chandra, salah satu pengurus wihara Lhokseumawe, mengatakan, toleransi beragama
di daerahnya sangat tinggi.
“Bahkan
kalau kita perayaan waisak atau tahun baru, itu masyarakat muslim turut
bantu. Mareka membantu kita agar nyaman, sepeda motor kita diamankan, ini sudah
puluhan tahun,” katanya, Selasa (12/9/2017).
Perlakuan
yang sama ketika umat kristen melaksanakan ibadah pada Minggu di dua gereja
itu. Mereka tak pernah mengalami gangguan apapun.
“Disini
muslim nyaris 100 persen. Menerapkan syariat islam, tak ada pergesekan
antar-pemeluk agama disini”. Terang ketua bidang pendidikan Vihara Lhokseumawe
itu.
Di
Lhokseumawe tercatat 240 kepala keluarga adalah pemeluk agama Buddha.
Hamdan,
salah satu umat kristiani di Lhokseumawe merasakan tak ada kendala apapun saat
melakukan ibadah di gereja. “Kita ini bersaudara,” katanya.
Dia
menceritakan, ketika kerusuhan Mei 1998 pecah, tak ada satupun warga nonmuslim
diganggu.
“Gereja kami
utuh, tak ada yang merusak dari dulu sampai kini,” katanya.
Data dari
Badan Pusat Statistik (BPS) Lhokseumawe menyebutka total penduduk kota itu
sebanyak 205.462 jiwa dengan rincian pemeluk agama Islam 203.783 jiwa, Katolik
185 jiwa, Buddha 718 jiwa dan Hindu 10 jiwa.
Wali Kota
Lhokseumawe Suaidi Yahya menyebutkan, toleransi umat beragama di Lhokseumawe
tak perlu diragukan lagi.
“Kalau kita
masih berbicara perbedaan, maka itu tak akan slesai-selesai. Dari zaman konflik
dulu sampai sekarang masyarakat pemeluk agama selalu rukun dan damai di
kota ini,” katanya.
Ketika
berbicara tentang toleransi di Aceh, Lhokseumawe bisa dijadikan salah satu
rujukan. Disana, umat beragama menyatu dalam pelukan muslim dan payung
kebhinekaan Indonesia.
Penulis :
Kontributor Lhokseumawe, Masriadi
Editor :
Farid Assifa
v Data Ringkasan Berita :
Tiga rumah ibadah berdiri megah di Desa Pusong, Kecamatan Banda Sakti,
Kota Lhokseumawe. Gedung itu dibangun puluhan tahun lalu dan saling
berdampingan, yaitu satu wihara dan dua gereja.
Satu gereja
milik Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dan satu lagi Gereja Methodis
Indonesia (GMI). Tak jauh dari rumah ibadah itu terdapat masjid di Pusong.
Letak ketiga
rumah ibadah itu berada di sudut kota. Saban akhir pekan, jemaat berdatangan
kesana. Tak ada pengamanan khusus, mereka bisa khusuk beribadah tanpa khawatir.
Affandi
Chandra, salah satu pengurus wihara Lhokseumawe, mengatakan, toleransi beragama
di daerahnya sangat tinggi.
“Bahkan
kalau kita perayaan waisak atau tahun baru, itu masyarakat muslim turut
bantu. Mareka membantu kita agar nyaman, sepeda motor kita diamankan, ini sudah
puluhan tahun,” katanya, Selasa (12/9/2017).
Perlakuan
yang sama ketika umat kristen melaksanakan ibadah pada Minggu di dua gereja
itu. Mereka tak pernah mengalami gangguan apapun.
Data dari
Badan Pusat Statistik (BPS) Lhokseumawe menyebutka total penduduk kota itu
sebanyak 205.462 jiwa dengan rincian pemeluk agama Islam 203.783 jiwa, Katolik
185 jiwa, Buddha 718 jiwa dan Hindu 10 jiwa.
Ketika
berbicara tentang toleransi di Aceh, Lhokseumawe bisa dijadikan salah satu
rujukan. Disana, umat beragama menyatu dalam pelukan muslim dan payung
kebhinekaan Indonesia
4. Informasi Teks Ceramah
v Informasi berdasarkan fungsi : Informasi yang menambah pengetahuan
Data : Dengan menghargai orang lain, maka orang lain juga akan
menghargai kita
v Informasi berdasarkan format penyajian : tulisan
v Informasi berdasarkan lokasi peristiwa : nasional
Data : Perbedaan di Negara Indonesia kita yang tercinta ini, tak
dapat dihilangkan atau dihapuskan karena masing-masing orang memiliki pendirian
yang berbeda sehingga satu-satunya jalan adalah dengan saling menghormati.
v Informasi berdasarkan bidang kehidupan : budaya
Data : Bangsa
Indonesia juga dikenal sebagai bangsa yang menerapkan ajaran tenggang rasa.
v Informasi berdasarkan kepentingan : informasi yang menyangkut perubahan
dan pengaruh pada kehidupan pembaca
Data : Menghargai
adalah menghormati segala sesuatu hasil atau milik orang lain. Menghargai orang
lain sangat penting dalam kehidupan ini. Dengan menghargai orang lain maka
orang lain juga akan menghargai kita. Sikap apa yang kita peroleh dari orang
lain adalah cerminan dari sikap kita sehari-hari kepada orang lain. Jika kita
bersikap baik dan menghargai orang lain maka orang lain juga akan berbuat
demikian.
v Informasi berdasarkan penyampaian : Informasi yang disediakan setiap
saat
Data : Menghargai juga sangat penting diterapkan di
kehidupan sehari-hari terlebih kita ini adalah Bangsa Indonesia.
5. Struktur Teks Ceramah
v Pembuka
a. Salam pembuka
Data :
Selamat pagi
b. Sapaan
Data : Yang
saya hormati, guru Bahasa Indonesia
Yang saya banggakan teman-teman sekalian
c. Menanyakan Keadaan
Data : Bagaimana kabarnya hari ini?, saya harap baik-baik saja.
d. Ucapan Syukur
Data : Pertama-tama, marilah kita panjatkan puja dan puji syukur kepada
Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya lah, kita dapat
berkumpul di sini pada pagi hari ini.
e. Ucapan Terima Kasih
Data : Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada guru Bahasa
Indonesia dan teman-teman sekelas yang telah memberikan saya kesempatan untuk
menyampaikan ceramah saya ini.
f. Harapan
Data : Sebelum itu, Saya berharap apa yang saya sampaikan hari ini dapat
bermanfaat dan saya sangat senang jika ceramah saya akan berguna dalam kehidupan sehari-hari.
v Isi
1. Isi (Pengantar Materi) :
a. Judul Teks Ceramah : Menghargai Perbedaan Beragama
Data : Saya akan menyampaikan ceramah dengan judul “Menghargai Perbedaan
Agama”
b. Tema materi : Toleransi Beragama
Data : Saya akan
menyampaikan ceramah dengan judul “Menghargai Perbedaan Agama”. Menghargai adalah menghormati segala sesuatu hasil atau
milik orang lain. Menghargai orang lain sangat penting dalam
kehidupan ini. Dengan menghargai orang lain maka orang lain juga akan
menghargai kita. Sikap apa yang kita peroleh dari orang lain adalah cerminan
dari sikap kita sehari-hari kepada orang lain. Jika kita bersikap baik dan
menghargai orang lain maka orang lain juga akan berbuat demikian.
c. Pentingnya Materi : Menambah pengetahuan tentang pentingnya toleransi
Data : Menghargai orang
lain sangat penting dalam kehidupan ini. Dengan menghargai orang lain maka
orang lain juga akan menghargai kita.
d. Metode Ceramah
Data : Sebelum saya memberikan contoh kehidupan bertoleransi antar
agama, dari sini apa ada yang ditanyakan ?
2. Isi (Materi Inti) :
a. Masalah aktual
Data :
Tiga rumah
ibadah berdiri megah di Desa Pusong, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe.
Gedung itu dibangun puluhan tahun lalu dan saling berdampingan, yaitu satu
wihara dan dua gereja.
Satu gereja
milik Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dan satu lagi Gereja Methodis
Indonesia (GMI). Tak jauh dari rumah ibadah itu terdapat masjid di Pusong.
Letak ketiga
rumah ibadah itu berada di sudut kota. Saban akhir pekan, jemaat berdatangan
kesana. Tak ada pengamanan khusus, mereka bisa khusuk beribadah tanpa khawatir.
Affandi
Chandra, salah satu pengurus wihara Lhokseumawe, mengatakan, toleransi beragama
di daerahnya sangat tinggi.
“Bahkan
kalau kita perayaan waisak atau tahun baru, itu masyarakat muslim turut
bantu. Mareka membantu kita agar nyaman, sepeda motor kita diamankan, ini sudah
puluhan tahun,” katanya, Selasa (12/9/2017).
Perlakuan
yang sama ketika umat kristen melaksanakan ibadah pada Minggu di dua gereja
itu. Mereka tak pernah mengalami gangguan apapun.
Data dari
Badan Pusat Statistik (BPS) Lhokseumawe menyebutka total penduduk kota itu
sebanyak 205.462 jiwa dengan rincian pemeluk agama Islam 203.783 jiwa, Katolik
185 jiwa, Buddha 718 jiwa dan Hindu 10 jiwa.
Ketika
berbicara tentang toleransi di Aceh, Lhokseumawe bisa dijadikan salah satu
rujukan. Disana, umat beragama menyatu dalam pelukan muslim dan payung
kebhinekaan Indonesia.
b. Tanggapan tentang masalah
Data :
setuju dengan toleransi antar umat beragama karena dengan adanya
toleransi dapat menegakkan persatuan dan kesatuan di Indonesia .
c. Fakta
Data : Tiga
rumah ibadah berdiri megah di Desa Pusong, Kecamatan Banda Sakti, Kota
Lhokseumawe. Gedung itu dibangun puluhan tahun lalu dan saling berdampingan,
yaitu satu wihara dan dua gereja.
3. Penutup :
v Kesimpulan
Data : Bangsa
Indonesia juga dikenal sebagai bangsa yang menerapkan ajaran tenggang rasa.
Rasa toleransi ini, sangat dibutuhkan jika kita sedang menghadapi perbedaan.
Sekali lagi perlu diingat bahwa perbedaan itu bukanlah suatu penyakit menular
yang harus dihindari. Jadi, jangan sampai kita mengacuhkan atau mengucilkan
orang yang berbeda dari kita.
v Ucapan terima kasih
Data : Saya
berharap ceramah saya akan berguna dalam kehidupan kita. Atas waktu dan
perhatian yang telah anda berikan, saya ucapkan terimakasih.
v Permohonan maaf
Data : Jikalau
ada salah kata saya ucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya.
v Salam penutup
Data : Selamat Pagi.
6. Kaidah Kebahasaan:
1. Kalimat imperatif
1. Kalimat imperatif
· Perintah
Biasa
Semua
manusia sama di mata tuhan, maka biasakanlah menerapkan
kehidupan toleransi antar sesama.
· Ajakan
Pertama-tama, marilah kita
panjatkan puja dan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa...
· Larangan
Jadi, jangan sampai kita
mengacuhkan atau mengucilkan orang yang berbeda dari kita.
2. Menggunakan kata ganti
· Kata
ganti orang pertama tunggal
Yang saya banggakan
teman-teman sekalian.
· Kata
ganti orang kedua jamak (Kata sapaan)
Yang saya
banggakan teman-teman sekalian.
3. Menggunakan kata-kata teknis
· Bidang keagamaan
a) Salat
sa·lat n Isl 1 rukun Islam kedua, berupa
ibadah kepada Allah Swt., wajib dilakukan oleh setiap muslim mukalaf, dengan
syarat, rukun, dan bacaan tertentu, dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan
salam; 2 doa kepada Allah.
Data:
Jika di
dalam agama Islam, biasanya salat 5 kali sehari menghadap ke
arah kiblat...
b) Kiblat
ki-blat n
1 arah ke Kakbah di Mekah(pada waktu salat); 2 arah; jurusan; mata angin;
ber-ki-blat v berarah; menuju; pendirian itu tampaknya~kepada
perdamaian dunia; me-ngi-blat-kan v mengarahkan ke kiblat.
Data:
Jika di
dalam agama Islam, biasanya salat 5 kali sehari menghadap ke arah kiblat...
4. Menggunakan kata kerja mental
· Persepsi
Data
: ...maka orang lain juga akan menghargai
dan memperhatikan kita.
· Kognisi
Data
; Bahkan, ada beberapa orang yang berpendapat bahwa berbeda itu adalah suatu kewajiban.
· Afeksi
Data
: Saya sangat senang jika ceramah saya akan berguna dalam...
Komentar
Posting Komentar