GAYA BICARA PELAJAR
GAYA BICARA PELAJAR
Bacalah contoh teks
ceramah berikut ini!
Saudara-saudara
yang baik hati, suatu ketika saya melihat beberapa orang siswa asyik berjalan
di depan sebuah kelas dengan langkahnya yang cukup membuat orang di
sekitarnya merasa bising. Terdengar percakapan di antara mereka yang
kira-kira begini, “Punya gua kering hilang.” Terdengar pula
sahutan salah seorang mereka, “Lho, kalau punya gua,
sama elu kemanain?”
Tak menyangka,
salah seorang siswa di samping saya juga memperhatikan percakapan mereka. Ia
kemudian nyeletuk, “Gua apa: Gua Selarong atau Gua Jepang?”
Beberapa siswa yang mendengarnya tertawa kecil. Di antara mereka ada yang
berbisik, “Serasa di Terminal Kampung Rambutan, ye....”
Peristiwa
tersebut menggambarkan bahwa ada dua kelompok siswa yang memiliki sikap
berbahasa yang berbeda di sekolah tersebut. Kelompok pertama adalah mereka
yang kurang memiliki kepedulian terhadap penggunaan bahasa yang baik dan
benar. Hal ini tampak pada ragam bahasa yang mereka gunakan yang menurut
sindiran siswa kelompok keua sebagai ragam bahasa Kampung Rambutan. Bahasanya
orang-orang Betawi.
Dari
komentar-komentarnya, kelompok siswa edua memiliki sikap kritis terhadap
kaidah kebahasaan temannya. Mereka mengetahui makan gua yang
benar dalam bahasa Indonesia adalah ‘Lubang besar pada kaki gurung’. Dengan
makna tersebut, kaat gua seharusnya ditujukan untuk
penyebutan nama tempat, seperti Gua Selarong, Gua Jepang, dan
seterusnya, bukan kata ganti orang (persona).
Sangat beruntung,
sekolah saya itu masih memiliki kelompok siswa yang peduli terdap penggunaan
bahasa Indonesia yang baik dan benar, padahal kebanyakan sekolah, penggunaan
bahasa para siswanya cenderung lebih tidak terkontrol. Yang dominan adalah
ragam bahasa pasar atau bahasa gaul. Yang banyak terdengar adalah pilihan
kata elu-gua.
Bapak-bapak dan
Ibu-ibu, prasangka saya waktu itu bukannya tidak memahami akan perlunya
ketertiban berbahasa di lingkungan sekolah. Saya berkeyakinan bahwa doktrin
tentang “berbahasa Indonesialah dengan baik dan benar” telah mereka peroleh
jauh-jauh sebelumnya, sejak SMP atau bahkan sejak mereka SD. Saya melihat
ketidakberesan mereka berbahasa, antara lain, disebabkan oleh kekurangwibawaan
bahasa Indonesia itu sendiri di mata mereka.
Ragam bahas
Indonesia ragam baku mereka anggap kurang “asyik” dibandingkan dengan bahasa
gaul, lebih-lebih dengan bahasa asing., baik itu dalam pergaulan ataupun
ketika mereka sudah masuk dunia kerja. Tuntutan kehidupan modern telah
membelokkan apresiasi para siswa itu terhadap bahanya sendiri. Bahasa asing
berkesan lebih bergengsi. Pelajaran bahasa Indonesia tak jarang ditanggapi
dengan sikap sinis. Mereka merasa lebih asyik dengan mengikuti pelajaran
bahas Inggris atau mata kuliah lainnya.
Dalam kehidupan
masyarakat umum pun, kinerja bahasa Indonesia memang menunjukkan kondisi yang
semakin tidak menggembirakan. Setelah Badan Bahasa tidak lagi menunjukkan
peran aktifnya, bahasa Indonesia menunjukkan perkembangan ironis. Bahasa
Indonesia digunakan seenaknya sendiri; tidak hanya oleh kalangan terpelajar,
tetapi juga oleh para pejabat .
Seorang pejabat
negara berkata daam wawancara di televisi, “Content undang-undang
tersebut nggak begitu kok. Ada dua item yang
harus kita perhatikan di dalamnya.” Pejabat tersebut tampaknya merasa dirinya
lebih hebat dengan menggunakan kata content daripada isi atau
kata item daripada kata bagian atau hal.
Penggunaan bahas
yang acak-acakan juga banyakdipelopori oleh kalangan pebisnis. Badan usaha,
pemilik toko, dan pemasang iklan kian pandai menggunakan bahasa asing.
Seorang penguasaha salon lebih merasa bergaya dengan nama usahanya dengan
berlabel Susi Salon daripada Salon Susi atau
pengusaha kue lebih percaya diri dengan tokonya yang bernama Lutfia
Cake daripada Toko Roti Lutfia. Akan merasa aneh
terdengarnya apabila PT Jasa Marga ikut-ikutan menamai jalan-jalan di Bandung
dan di kota-kota lainya, misalnya menjadi Sudirman Jalan, Kartini
Jalan, Soekarno-Hatta Jalan.
Hadirin yang
berbahagia, kalangan terpelajar dengan julukan hebatnya sebagai “tulang
punggung negara, harapan masa depan bangsa” seharusnya tidak larut dengan
kebiasaan seperti itu. Para siswa justru harus menunjukkan kelas tersendiri
dalam hal berbahasa.
Intensitas para
siswa dalam memahami lietarstur-literatur sesungguhnya merupakan sarana
efektif dalam engakrabi ragam bahas baku. Dar literatur-literatur tersebut
mereka dapat mencontoh tentang cara berpikir, berasa, dan berkomunikasi
dengan bahasa yang lebih logis dan tertata.
Namun, lain lagi
ceritanya kalau yang dikonsumsi itu berupa majalah hiburan yang penuh dengan
gosip. Forum gaulnya berupa komunitas dugem; literatur utamanya
koran-koran kuning, jadinay ya..., gitu deh.... Ragam
bahasa elu-gue, oh yes... oh no... yang bisa jadi akan lebih
banyak mewarnai.
Dikutip dari Buku Paket Bahasa Indonesia SMA/MA/SMK/MAK Kelass XI
|
A. Struktur Teks Ceramah
1. Pembuka
Berupa pengenaan
isu, masalah, ataupun pandangan pembicara tentang topik yang akan dibahanya.
Bagian ini sama dengan isi dalam teks eksposisi, yang disebut dengan isu.
2. Isi
Berupa argume
pembicara barkaitan dengan pendahuluan atau tesis. Pada bagian ini dikemukakan
pula sejumlah fakta yang memperkuat argumen-argumen pembicara.
3. Penutup
Berupa penegasan
kembali atas pertanyaan-pertanyaan sebelumnya.
Contoh analisis
struktur teks
a. Pendahuluan
Saudara-saudara
yang baik hati, suatu ketika saya melihat beberapa orang siswa asyik berjalan
di depan sebuah kelas dengan langkahnya yang cukup membuat orang di
sekitarnya merasa bising. Terdengar percakapan di antara mereka yang
kira-kira begini, “Punya gua kering hilang.” Terdengar pula
sahutan salah seorang mereka, “Lho, kalau punya gua,
sama elu kemanain?”
Tak menyangka,
salah seorang siswa disamping saya juga memperhatikan percakapan mereka. Ia
kemudian nyeletuk, “Gua apa: Gua Selarong atau Gua Jepang?”
Beberapa siswa
yang mendengarnya tertawa kecil. Di antara mereka ada yang berbisik, “Serasa
di Terminal Kampung Rambutan, ye....”
Peristiwa
tersebut menggambarkan bahwa ada dua kelompok siswa yang memiliki sikap
berbahasa yang berbeda di sekolah tersebut. Kelompok pertama adalah mereka
yang kurang memiliki kepedulian terhadap penggunaan bahasa yang baik dan
benar. Hal ini tampak pada ragam bahasa yang mereka gunakan yang menurut
sindiran siswa kelompok kedua sebagai ragam bahasa Kampung Rambutan.
Bahasanya orang-orang Betawi.
Dari
komentar-komentarnya, kelompok siswa kedua memiliki sikap kritis terhadap
kaidah kebahasaan temannya. Mereka mengetahui makna kata gua yang
benar dalam bahasa Indonesia adalah ‘Lubang besar pada kaki gurung’. Dengan
makna tersebut, kata gua seharusnya ditujukan untuk
penyebutan nama tempat, seperti Gua Selarong, Gua Jepang, dan
seterusnya, bukan kata ganti orang (persona).
Sangat beruntung,
sekolah saya itu masih memiliki kelompok siswa yang peduli terhadap
penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, padahal kebanyakan sekolah,
penggunaan bahasa para siswanya cenderung lebih tidak terkontrol. Yang dominan
adalah ragam bahasa pasar atau bahasa gaul. Yang banyak terdengar adalah
pilihan kata elu-gua.
|
Bagian terebut
mengenalkan permasalahan utama (tesis), yakni tentang pengunaan ragam bahasa
Indonesia di kalangan pelajar.
b. Isi (Rangkian Argumen)
Bapak-bapak dan
Ibu-ibu, prasangka saya waktu itu bukannya tidak memahami akan perlunya
ketertiban berbahasa di lingkungan sekolah. Saya berkeyakinan bahwa doktrin
tentang “berbahasa Indonesialah dengan baik dan benar” telah mereka peroleh
jauh-jauh sebelumnya, sejak SMP atau bahkan sejak mereka SD. Saya melihat
ketidakberesan mereka berbahasa, antara lain, disebabkan oleh
kekurangwibawaan bahasa Indonesia itu sendiri di mata mereka.
Ragam bahasa
Indonesia ragam baku mereka anggap kurang “asyik” dibandingkan dengan bahasa
gaul, lebih-lebih dengan bahasa asing, baik itu dalam pergaulan ataupun
ketika mereka sudah masuk dunia kerja. Tuntutan kehidupan modern telah
membelokkan apresiasi para siswa itu terhadap bahasanya sendiri. Bahasa asing
berkesan lebih bergengsi. Pelajaran bahasa Indonesia tak jarang ditanggapi
dengan sikap sinis. Mereka merasa lebih asyik dengan mengikuti pelajaran
bahas Inggris atau mata kuliah lainnya.
Dalam kehidupan
masyarakat umum pun, kinerja bahasa Indonesia memang menunjukkan kondisi yang
semakin tidak menggembirakan. Setelah Badan Bahasa tidak lagi menunjukkan
peran aktifnya, bahasa Indonesia menunjukkan perkembangan ironis. Bahasa
Indonesia digunakan seenaknya sendiri; tidak hanya oleh kalangan terpelajar,
tetapi juga oleh para pejabat.
Seorang pejabat
negara berkata dalam wawancara di televisi, “Content undang-undang
tersebut nggak begitu kok. Ada dua item yang
harus kita perhatikan di dalamnya.” Pejabat tersebut tampaknya merasa dirinya
lebih hebat dengan menggunakan kata content daripada isi atau
kata item daripada kata bagian atau hal.
Penggunaan bahas
yang acak-acakan juga banyak dipelopori oleh kalangan pebisnis. Badan usaha,
pemilik toko, dan pemasang iklan kian pandai menggunakan bahasa asing.
Seorang penguasaha salon lebih merasa bergaya dengan nama usahanya dengan
berlabel Susi Salon daripada Salon Susi atau
pengusaha kue lebih percaya diri dengan tokonya yang bernama Lutfia
Cake daripada Toko Roti Lutfia. Akan merasa aneh
terdengarnya apabila PT Jasa Marga ikut-ikutan menamai jalan-jalan di Bandung
dan di kota-kota lainya, misalnya menjadi Sudirman Jalan, Kartini
Jalan, Soekarno-Hatta Jalan.
|
Tesk tersebut
merupakan salah satu bagian argumen pembicara tentang
masalah penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di
masyarakat.
c. Penutup (Penegasan Kembali)
Hadirin yang
berbahagia, kalangan terpelajar dengan julukan hebatnya sebagai “tulang
punggung negara, harapan masa depan bangsa” seharusnya tidak larut dengan
kebiasaan seperti itu. Para siswa justru harus menunjukkan kelas tersendiri
dalam hal berbahasa.
Intensitas para
siswa dalam memahami lietaratur-literatur sesungguhnya merupakan sarana
efektif dalam mengakrabi ragam bahas baku. Dari literatur-literatur tersebut
mereka dapat mencontoh tentang cara berpikir, berasa, dan berkomunikasi
dengan bahasa yang lebih logis dan tertata.
Namun, lain lagi
ceritanya kalau yang dikonsumsi itu berupa majalah hiburan yang penuh dengan
gosip. Forum gaulnya berupa komunitas dugem; literatur utamanya
koran-koran kuning, jadinay ya..., gitu deh.... Ragam
bahasa elu-gue, oh yes... oh no... yang bisa jadi akan lebih
banyak mewarnai.
|
Bagian tersebut
merupakan suatu simpulan, sebagai hasil penalaran dari penjelasan sebelumnya.
Hal ini ditandai oleh kata-kata yang berupa saran-saran yang disertai pula
sejumlah alasan.
B. Kebahasaan Teks Ceramah
1. Menggunakan kata ganti orang pertama
(tunggal) dan kata ganti orang kedua jamak, sebagai sapaan.
Kata ganti orang pertama, yakni saya, aku.
Mungkin juga menggunakan kata kami apabila penceramahnya
mengatasnamakan kelompok. Teks ceramah sering kali menggunakan kata
sapaan yang ditujukan pada orang banyak, seperti hadirin, kalian,
bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudara.
Contoh:
a. Saudara-saudara yang baik hati, suatu
ketika saya melihat beberapa orang siswa asyik berjalan di
depan sebuah kelas dengan langkahnya yang cukup membuat orang di sekitarnya
merasa bising.
b. Sangat beruntung, sekolah saya itu
masih memiliki kelompok siswa yang peduli terdap penggunaan bahasa Indonesia
yang baik dan benar, padahal kebanyakan sekolah, penggunaan bahasa para
siswanya cenderung lebih tidak terkontrol.
c. Bapak-bapak dan Ibu-ibu,
prasangka saya waktu itu bukannya tidak memahami akan perlunya
ketertiban berbahasa di lingkungan sekolah.
d. Saya berkeyakinan bahwa doktrin
tentang “berbahasa Indonesialah dengan baik dan benar” telah mereka peroleh
jauh-jauh sebelumnya, sejak SMP atau bahkan sejak mereka SD.
e. Saya melihat ketidakberesan mereka
berbahasa, antara lain, disebabkan oleh kekurangwibawaan bahasa Indonesia itu
sendiri di mata mereka.
f. Hadirin yang berbahagia, kalangan terpelajar dengan julukan
hebatnyasebagai “tulang punggung negara, harapan masa depan bangsa” seharusnya
....
Berdasarkan temuan
tersebut, maka dapat diketahui bahwa kata ganti pertama (tunggal) yang
digunakan adalah kata saya. Kata sapa yang
digunakan adalah Saudara-saudara, Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan Hadirin
yang berbahagia.
2. Menggunakan kata-kata teknis ataupun peistilahan yang berkenaan dengan
topik yang dibahas.
Dengan topik tentang masalah kebahasaan yang menjadi fokus
pembahasannya. Topik pembahasan dalam teks tersebut adalah tentang
kecenderungan masyarakat tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan
benar. Maka istilah-istilah yang digunakan sesuai dengan topik tersebut adalah
sebagai berikut.
a. Peristiwa tersebut menggambarkan
bahwa ada dua kelompok siswa yang memiliki sikap berbahasa yang
berbeda di sekolah tersebut.
b. Hal ini tampak pada ragam
bahasa yang mereka gunakan yang menurut sindiran siswa kelompok kedua
sebagai ragam bahasa Kampung Rambutan.
c. Dari komentar-komentarnya, kelompok
siswa kedua memiliki sikap kritis terhadap kaidah kebahasaan temannya.
d. Mereka mengetahui makna kata gua yang
benar dalam bahasa Indonesia adalah ‘Lubang besar pada kaki gurung’.
e. Dengan makna tersebut, kata gua seharusnya ditujukan
untuk penyebutan nama tempat, seperti Gua Selarong, Gua Jepang, dan
seterusnya, bukan kata ganti orang (persona).
f. Sangat beruntung, sekolah saya itu
masih memiliki kelompok siswa yang peduli terhadap penggunaan bahasa
Indonesia yang baik dan benar, padahal kebanyakan sekolah, penggunaan
bahasa para siswanya cenderung lebih tidak terkontrol.
g. Yang dominan adalah ragam
bahasa pasar atau bahasa gaul.
h. Ragam bahasa Indonesia ragam baku mereka anggap kurang “asyik”
dibandingkan dengan bahasa gaul, lebih-lebih dengan bahasa
asing, baik itu dalam pergaulan ataupun ketika mereka sudah masuk
dunia kerja.
i. Setelah Badan Bahasa tidak
lagi menunjukkan peran aktifnya, bahasa Indonesia menunjukkan perkembangan
ironis.
j. Intensitas para siswa dalam
memahami litaratur-literatur sesungguhnya merupakan sarana
efektif dalam mengakrabi ragam bahas baku.
3. Menggunakan kata-kata yang menunjukkan hubungan argumentasi
(sebab-akibat).
Misalnya, jika... maka, sebab, karena,
dengan demikian, akibatnya, oleh karena itu. Selain itu, dapat pula
digunakan kata-kata yang menyatakan hubungan temporal ataupun
perbandingan/pertentangan, sperti sebelum itu, kemudian, pada akhirnya,
sebaliknya, berbeda halnya, namun.
Contoh:
· Kata yang menunjukkan hubungan
argumentasi (sebab-akibat)
a. Saya melihat ketidakberesan mereka
berbahasa, antara lain, disebabkan oleh kekurangwibawaan
bahasa Indonesia itu sendiri di mata mereka.
b. Forum gaulnya berupa komunitas dugem;
literatur utamanya koran-koran kuning, jadinya ya..., gitu
deh....
· Kata yang menunjukkan hubungan
temporal
a. Saudara-saudara yang baik hati,
suatu ketika saya melihat beberapa orang siswa asyik berjalan
di depan sebuah kelas dengan langkahnya yang cukup membuat orang di sekitarnya
merasa bising.
b. Ia kemudian nyeletuk,
“Gua apa: Gua Selarong atau Gua Jepang?”
c. Saya berkeyakinan bahwa doktrin
tentang “berbahasa Indonesialah dengan baik dan benar” telah mereka peroleh
jauh-jauh sebelumnya, sejak SMP atau bahkan sejak mereka
SD.
d. Setelah Badan Bahasa tidak lagi menunjukkan
peran aktifnya, bahasa Indonesia menunjukkan perkembangan ironis.
· Kata yang menunjukkan hubungan
perbandingan/pertentangan
a. Sangat beruntung, sekolah saya itu
masih memiliki kelompok siswa yang peduli terhadap penggunaan bahasa Indonesia
yang baik dan benar, padahal kebanyakan sekolah, penggunaan
bahasa para siswanya cenderung lebih tidak terkontrol.
b. Ragam bahasa Indonesia ragam baku
mereka anggap kurang “asyik” dibandingkan dengan bahasa gaul,
lebih-lebih dengan bahasa asing, baik itu dalam pergaulan ataupun ketika mereka
sudah masuk dunia kerja.
c. Pejabat tersebut tampaknya merasa dirinya lebih hebat dengan menggunakan
kata content daripada isi atau
kata item daripada kata bagian atau hal.
d. Seorang penguasaha salon lebih merasa
bergaya dengan nama usahanya dengan berlabel Susi Salon daripada Salon
Susi atau pengusaha kue lebih percaya diri dengan tokonya yang
bernama Lutfia Cake daripada Toko Roti Lutfia.
4. Menggunakan kata kerja mental
Kata kerja mental
seperti memprihatinkan, mengagumkan, menduga, dan lain-lain.
Contoh:
a. Bapak-bapak dan Ibu-ibu, prasangka
saya waktu itu bukannya tidak memahami akan perlunya
ketertiban berbahasa di lingkungan sekolah.
b. Saya berkeyakinan bahwa
doktrin tentang “berbahasa Indonesialah dengan baik dan benar” telah mereka
peroleh jauh-jauh sebelumnya, sejak SMP atau bahkan sejak mereka SD.
5. Menggunakan kata kerja persuasif
Kata-kata persuasif
seperti hendaklah, sebaiknya, perlu, dll.
Contoh:
a. Hadirin yang berbahagia, kalangan
terpelajar dengan julukan hebatnya sebagai “tulang punggung negara, harapan
masa depan bangsa” seharusnya tidak larut dengan kebiasaan
seperti itu.
b. Para siswa justru harus menunjukkan
kelas tersendiri dalam hal berbahasa.
6. Menggunakan kalimat deklaratif dan imperatif.
7. Penggunaan kalimat majemuk
Kalimat majemuk
bertingkat adalah kalimat yang memiliki lebih dari satu klausa dan hubungan
antara klausa tidak sederajat. Salah satu klausa ada yang menduduki induk
kalimat, sedangkan unsur yang lain sebagai anak kalimat.
Kalimat majemuk
bertingkat terbagi ke dalam beberapa jenis, antara lain:
a. Kalimat majemuk hubungan akibat, ditandai oleh kata penghubung sehingga,
sampai-sampai, maka.
Contoh:
· Ia terlalu bekerja keras sehingga jatuh
sakit.
· Penjelasan diberikan seminggu
seklai sehingga anak-anak dapat mengerjakan tugas-tugas mereka
dengan teratur.
b. Kalimat majemuk hubungan cara, ditandai oleh kata penghubung dengan.
· Kejelasan PSMS Medan berjasil
mempertahankan kemenangannya dengan memperkokoh pertahanan
mereka.
c. Kata majemuk hubungan sangkalan, ditandai oleh konjungsi seolah-olah,
seakan-akan.
Contoh.
· Ia pun menghapus wajahnya seakan mau
melenyapkan pikirannya yang risau itu.
d. Kata majemuk hubungan kenyataan, ditandai oleh konjungsi padahal,
sedangkan.
Contoh.
· Para tamu sudah siap, sedangkan kita
belum siap.
e. Kalimat majemuk hasil, ditandai dngan
konjungsi makanya.
Contoh.
· Tempat ini licin, makanya Anda
jatuh.
f. Kalimat majemuk hubungan penjelasan,
ditandai oleh kata penghubung yaitu.
Contoh.
· Kebun ini telah dibersihkan ayah,
yaitu dengan memangkas dan menebang belukar yang tumbuh di sekitarnya.
g. Kalimat majemuk hubungan antributif,
ditandai oleh konjungsi yang.
Contoh.
· Kelompok pertama adalah mereka yang kurang
memiliki kepedulian terhadap penggunaan bahasa yang baik dan benar.
· Hal ini tampak pada ragam bahasa yang mereka
gunakan yang menurut sindiran siswa kelompok kedua sebagai
ragam bahasa Kampung Rambutan.
Komentar
Posting Komentar