teks cerita sejarah
TEKS CERITA SEJARAH
A.
Pengertian Teks Cerita Sejarah
Teks cerita sejarah adalah sebuah teks yang di dalamnya
menceritakan/menjelaskan suatu fakta dan peristiwa yang terjadi di masa lalu
yang menjadi latar belakang (asal muasal) terjadinya sesuatu yang mana kejadian
tersebut memiliki nilai sejarah. Pendapat lain menyebutkan bahwa teks cerita sejarah adalah teks
tentang fakta dan kejadian masa lalu yang memiliki nilai sejarah.
B.
Ciri-ciri Teks Cerita Sejarah
Sebagai
salah satu bentuk teks dalam Bahasa Indonesia, teks cerita sejarah memiliki
beberapa ciri-ciri yang membedakannya dengan jenis teks lainnya. Pertama,
teks cerita sejarah disajikan secara kronologis atau urutan peristiwa. Kedua,
bentuk dari teks cerita sejarah merupakan teks cerita ulang. Artinya, teks
tersebut menceritakan ulang peristiwa mulai dari awal kejadian hingga akhir
kejadian secara runtut. Ketiga, teks cerita sejarah memiliki
struktur teks yang terdiri dari orientasi, urutan peristiwa, dan reorientasi.
Keempat, di dalam teks cerita sejarah akan sering ditemui konjungsi temporal.
Dan, kelima, teks cerita sejarah biasanya berisikan fakta-fakta yang
memang terjadi.
C.
Jenis
- Jenis Teks Sejarah
1. Sejarah Fiksi :
Ø
Novel : sebuah
karya fiksi prosa yang ditulis secara naratif; biasanya dalam bentuk cerita.
Penulis novel disebut novelis. Kata novel berasal dari bahasa Italia novella
yang berarti "sebuah kisah atau sepotong berita".
Ø
Cerpen : Cerita
pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif
fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan
karya-karya fiksi lain yang lebih panjang, seperti novella (dalam pengertian
modern) dan novel.
Ø
Legenda : cerita
prosa rakyat yang dianggap oleh yang mempunyai cerita sebagai sesuatu yang
benar-benar terjadi.
Ø
Roman
: sejenis
karya sastra dalam bentuk prosa atau gancaran yang isinya melukiskan perbuatan
pelakunya menurut watak dan isi jiwa masing-masing. Bisa juga roman artinya adalah
"kisah percintaan"
2. Sejarah Non-Fiksi :
Ø Biografi : kisah
atau keterangan tentang kehidupan seseorang yang ditulis oleh orang lain.
Ø Autobiografi : kisah
atau keterangan tentang kehidupan seseorang yang ditulis oleh orang itu
sendiri.
Ø Certia Perjalanan : teks
yang didalamnya menceritakan tentang perjalanan.
Ø Catatan Sejarah : teks
yang didalamnya menjelaskan/menceritakan tentang fakta/kejadian masa lalu yang
menjadi asal muasal sesuatu yang memiliki nilai sejarah.
D.
Struktur
Teks Cerita Sejarah
Adapun didalam teks cerita sejarah mengandung 3 struktur
yang membangun. #3 struktur teks cerita sejarah adalah antara lain sebagai
berikut :
1. Orientasi
Orientasi adalah bagian awal, permulaan atau pengenalan yang letaknya
diawal dari suatu isi teks cerita sejarah.
2. Urutan peristiwa
Urutan peristiwa adalah kronologis atau urutan-urutan rekaman
kejadian-kejadian atau peristiwa sejarah yang pernah terjadi didalam teks
cerita sejarah yang letaknya setelah orientasi.
3. Reorientasi
Reorientasi adalah bagian didalam teks cerita sejarah yang pada
umumnya berisikan dengan pendapat, komentar ataupun opini oleh penulis mengenai
peristiwa / kejadian sejarah yang di ceritakan didalam teks, dan ini bersifat
pilihan (opsi) sehingga keberadaannya ada maupun tidak ada, tidak jadi masalah.
E.
Kaidah
Bahasa Teks Cerita Sejarah
Ciri kebahasaan teks cerita
sejarah ditandai dengan adanya pronomina atau kata ganti, kata-kata yang
menunjukan kejadian atau peristiwa, adanya kata kerja (verba) material, dan
konjungsi (kata penghubung) temporal. Untuk lebih jelasnya bisa sobat lihat
dibawah ini.
1. Pronomina
(kata ganti), merupakan kata yang digunakan untuk menggantikan
benda dan menamai seseorang atau sesuatu secara tidak langsung.
2. Frasa
adverbial, meupakan kata yang menunjukan kejadian atau peristiwa, waktu, dan
tempat.
3. Verba
material, merupakan kata yang berfungsi untuk menunjukan aktivitas atau
perbuatan nyata yang dilakukan oleh partisipan. Kata kerja material menunjukan
perbuatan fisik atau peristiwa, misalnya membaca, menulis, dan menyapu.
4. Konjungsi
Temporal (kata sambung waktu), berguna untuk menata urutan-urutan peristiwa yang
diceritakan, teks cerita sejarah banya memanfaatkan konjungsi (kata penghubung)
temporal.
Penjelasan
Ø Kata
ganti (pronomina)
Kata
ganti adalah kata yang menggantikan benda atau sesuatu yang dibendakan.
Kata
ganti yang akan dibahas khusus kata ganti orang. Kata ganti orang adalah kata
ganti yang berfungsi menggantikan kata benda (orang).
1) Kata ganti
orang pertama:
·
Tunggal
Contoh: hamba,
saya, beta, aku, daku, awak, patik, hamba sahaya, dan sebagainya.
·
Jamak:
Contoh:
kami, kita
2) Kata ganti
orang kedua tunggal
Tunggal:
Contoh: kamu, engkau, tuan, saudara/saudari
Jamak
Contoh: kamu sekalian, engkau sekalian,
saudara sekalian, anda sekalian, kalian semua, dan sebagainya.
3) Kata ganti
orang ketiga
Tunggal
Contoh: dia, ia, beliau
Jamak
Contoh: mereka
2. Kalimat
bermasa lampau
Dalam cerita sejarah, terdapat fitur-fitur
kebahasaan yang menjadi kekhasannya. Salah satu diantaranya adalah penggunaan
kalimat yang menyatakan peristiwa pada masa lampau.
Contoh:
Pada tahun 1778 (1192
H), Syarif Abdurrahman dikukuhkan menjadi Sultan
Pontianak. Letak pusat pemerintahan ditandai dengan berdirinya Masjid Jami Pontianak (kini bernama
Masjid Sultan Syarif Abdurrahman) dan Istana Kadariyah
Pada waktu itu, ...............
Pada abad ke-17,......
3. Frasa
adverbial
Frase adverbial adalah frasa yang mengandung kata
keterangan
Contoh:
Ayahku berangkat ke Jakarta kemarin
sore.
Yayasan
Pendidikan Kalimantan resmi berdiri pada 1964.
Enam pastor muda Congregatio
Discipulorum Domini atau Kongregasi Murid-Murid Tuhan tiba
di Pontianak pada tahun 1949 .
4. Kata-kata
tindakan (Verba material)
Verba material merupakan kata kerja berimbuhan yang
mengacu pada tindakan fisik, ataupun perbuatan yang dilakukan secara fisik oleh
partisipan.
Contoh Verba Material (Kata dan Kalimat)
Batin mereka terpanggil membantu
dan menyelamatkanjiwa-jiwa muda yang rawan bahaya.
Kepemimpinan Pastor Lodewijk gencar melaksanakanpembenahan
dan pengembangan Kunzhong.
Lembaga itu mendirikan SMK Santa Maria, Rumah Retret Costantini,
Gedung Sentra Belajar dan Gedung Aula Besar di Jalan KS Tubun serta Gedung
PG-TKK-SD di Jalan Juanda.
5. Konjungsi kausalitas
Konjungsi sebab (kausal) menjelaskan bahwa suatu
peristiwa terjadi karena suatu sebab tertentu. Bila anak kalimat ditandai oleh
konjungsi sebab, induk kalimat merupakan akibatnya. Jadi, konjungsi kausal
adalah konjungsi yang menghubungkan sebab dan akibat.
Kata-kata yang dipakai untuk menyatakan
hubungan sebab adalah sebab, sebab itu, karena,dan karena itu.
Berikut adalah beberapa jenis konjungsi
kausal beserta contoh kata:
1) Konjungsi kausal syarat,
adalah konjungsi kausal yang menghubungkan akibat dengan syarat terjadinya
akibat tersebut. Contoh: jika, bila, kalau.
2) Konjungsi kausal alasan,
adalah konjungsi kausal yang menyatakan alasan suatu akibat terjadi. Contoh:
karena.
3) Konjungsi kausal
simpulan, adalah konjungsi kausal yang menarik simpulan dari suatu sebab dalam
bentuk akibat. Contoh: jadi, dengan, demikian.
4) Konjungsi kausal akibat,
adalah konjungsi kausal yang menghubungkan akibat yang terjadi dari suatu
sebab. Contoh: sehingga, maka, oleh karena itu, oleh sebab itu.
5) Konjungsi kausal untuk,
adalah konjungsi kausal yang menyatakan suatu sebab yang diharuskan untuk
terjadinya sebuah akibat yang diharapkan. Contoh: untuk itu, agar.
Contoh konjungsi kausal:
Berikut adalah beberapa contoh kalimat konjungsi
kausal. Setiap contoh beda jenisnya. Kamu akan mendapatkan nilai bagus jika mau
belajar dengan tekun. Banjir terjadi karenasaluran air tersumbat
sampah. Pengawasan guru lemah. Jadipara siswa leluasa menyontek.
Pria itu melanggar lampu merah sehingga menabrak pengendara
lain. Korupsi harus segera diberantas agar negara bisa tumbuh
lebih cepat.
6. Konjungsi
temporal
Konjungsi Temporal (kata sambung waktu), berguna
untuk menata urutan-urutan peristiwa yang diceritakan, teks cerita sejarah
banyak memanfaatkan konjungsi (kata penghubung) temporal.
Konjungsi (kata sambung) temporal (waktu)
menjelaskan hubungan waktu antara dua hal atau peristiwa. Misalnya : hingga,
ketika, sambil, sebelum, sedari, sejak, selama, semenjak, sementara, seraya,
waktu, setelah, sesudah, selanjutnya, seterysnya, tatkala,
Macam-macam Konjungsi Temporal
Kata konjungsi temporal terbagi menjadi dua yaitu
kata konjungsi temporal sederajat dan kata konjungsi temporal tidak sederajat.
Perhatikan penjelasan berikuat ini
1. Konjungsi
Temporal Sederajat
Kata Konjungsi temporal sederajat adalah kata
hubung yang bersifat setara atau sederajat. Kata konjungsi temporal
sederajat tidak boleh di gunakan di awal kalimat. Jika diletakkan diawal
kalimat, maka tidak akan menjadi kalimat yang tidak efektif. Kata konjungsi
temporal sederajat yang sering dipakai adalah kemudian, sebelumnya,
sesudahnya, lalu, dan selanjutnya. Konjugsi temporal sederajat
biasanya digunakan pada kalimat majemuk setara. Konjungsi temporal sederajat
harus diletakkan ditengah kalimat.
Contohnya dalam kalimat sebagai berikut:
1) Dina mengumpulkan data
dengan cara observasikemudian mengolah data tersebut untuk
membuktikan hipotesa penelitiannya.
2) Rina berencana mengadakan
sebuah kegiatansebelumnya ia menyusun proposal.
3) Andi berhasil menangkap
bola lalu pergi dan menendang bola ke arah gawang lawan.
4) Ibu memasukan telur selanjutnya memasukkan
mentega ke dalam wadah.
2. Konjungsi
Temporal tidak Sederajat
Kata konjungsi temporal tidak sederajat adalah kata
hubung yang menghubungkat kalimat bertingkat atau tidak setara. Kata
konjungsi temporal tidak sederajat dapat di gunakan di awal, tengah, maupun di
akhir paragraf. Kata konjungsi temporal tidak sederajat yang sering di gunakan
antara lain: ketika, sejak, apabila, sebelum, sesudah, hingga, demi,
sementara, waktu, bila, sambil,dll
Contoh dalam kalimat:
1) Rina pergi ketika mentari
mulai terbenam.
2) Sejak kepergian
ayahnya, ia menjadi tulang punggung keluarganya.
3) Apabila peristiwa
itu tidak terjadi, ia pasti tidak akan merasa bersalah seperti itu.
4) Krisis moneter itu
terjadi sebelum zaman reformasi.
5) Sesudah dikocok hingga mengembang,
masukkanlah tepung terigu secara perlahan sambil diaduk-aduk.
6) Dia terus berjuang
melawan penjajah demitanah air tercinta.
7) Waktu itu,
Beliau sedang tidak berada di kota itu.
8) Bila waktunya
tiba, ia akan datang kembali.
9) Dia kuliah sambil bekerja
untuk membiayai pendidikannya.
2.
Nomina / kata benda
Untuk
nomin dibagi menjadi 3 kelompok yaitu sebagai berikut:
·
Nomina modifikatif misalnya dua botol, ruang makan
dan lain sebagainya.
·
Nomina kordinatif (kata benda saling menerangkan),
misalnya sandang pangan, lahir batin, hak dan kewajiban, sarana dan prasarana,
adil dan makmur dan lain sebagainya.
·
Nomina apositif, sebagai keterangan yang diselipkan
atau ditambahkan, misalnya pergi berlibur ke garut, teman sekamarku,
Aulia dan lain sebagainya.
4.
Nominalisasi
adalah
proses pembentukan nomina atau kata benda dari kelas yang lain dengan
menggunakan istilah tertentu, biasanya sering digunakan pada bahasa yang
digunakan untuk menjelaskan isi dari penceritaan ulang. Dalam pembetukan nomina
biasanya selalu melibatkan pemberian imbuhan antara lain:
·
Sufiks atau akhiran, seperti
misalnya akhiran an, at, si, isme, is or dan tas, sebagai contoh misalnya aku
sangat menyukai manisan yang dibuat istriku, atau Dia adalah seorang komikus
terkenal di dunia dan lain sebagainya.
·
Prefiks atau awalan,
misalnya seperti pe, se, ke, seperti misalnya saya sekantor dengan dia, atau pedagang itu sangat jujur
·
Konfiks atau gabungan awalan dan akhiran,
seperi misalnya ke-an, pe-an dan per-an, misalnya kalimat yang mengandung
kata seperti pengaturan, pertunjukan atau kekayaan dan
lain sebagainya.
·
Infiks atau sisipan, seperti misalnya el dan er, seperti
misalnya kalimat yang mengandung kata seperti gelembung, seruling, telunjuk dan lain
sebagainya.
Komentar
Posting Komentar